Jumat, 01 Mei 2009

Bangkit dan Berjagalah

Oleh: Sapta Tandi

Bacaan: Kejadian 17:1-3

Dalam Kitab Kejadian 17:1-3 menjelaskan mengenai adanya perjanjian [covenant] yang dibuat antara Allah dengan Abraham dan antara Abraham dengan Allahnya.

Doa syafaat seharusnya hasil dari sebuah perjanjian [covenant] dengan Allah.. Apabila Anda ingin memiliki kehidupan doa syafaat maka pastikan dahulu bahwa Anda memiliki perjanjian dengan Allah. Perjanjian dengan Allah akan menghasilkan kehidupan doa yang efektif dan penuh kuasa.

Banyak orang Kristen tidak menyadari betapa pentingnya the power of covenant dalam doa-doa mereka. Sebab setiap doa yang efektif selalu lahir dari sebuah perjanjian [covenant] dengan Allah.

Dalam Kejadian 18:17, menjelaskan bahwa doa syafaat merupakan hasil dari perjanjian [covenant] dengan Allah. Allah berpikir, “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?” Allah berpikir demikian oleh karena ia memandang Abraham, orang yang kepadanya Dia mengadakan perjanjian.

Hanya orang yang berada di dalam perjanjian yang dapat mengerti “Pikiran Allah.”

Adalah sesuatu yang dahsyat dan sangat mulia bagi orang-orang yang berada di dalam perjanjian dengan-Nya.

Perjanjian dengan Allah akan mempengaruhi bukan hanya kepada nasib Abraham tetapi juga seluruh keluarganya dan keturunannya [Kejadian 18:17-19].

Perjanjian [covenant] melahirkan doa yang penuh kuasa. Doa yang penuh kuasa melahirkan pewahyuan yang datang dari sorga. Pewahyuan firman Allah melahirkan terlaksanakan kehendak Allah di bumi ini.

Apakah maksud dari, ‘terjagalah… bangunlah… berjaga-jagalah?”

Dalam Efesus 5:14, “…Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”

Arti kata ‘tidur’ adalah kehidupan tanpa doa; ‘bangun’ adalah kehidupan yang berdoa.

Rasul Paulus menjelaskan bahwa orang yang tertidur digambarkan sebagai orang yang berdosa.

Artinya, orang yang tertidur adalah orang yang mati dan hidup dalam kegelapan.

Tanpa doa maka kita akan mengalami kematian rohani yang ditunjukkan dengan hidup di dalam dosa atau kegelapan. “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu..

Jadi, doa akan menjaga kita untuk tetap memiliki kehidupan dan memberikan kita kekuatan untuk berjalan di dalam kebenaran firman Tuhan. Apabila Anda ingin tetap memiliki kehidupan Anda harus berdoa; tidak ada cara lain.

Alkitab berkata, “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”

Ini adalah pesan khusus untuk gereja akhir zaman. Lalu apa yang akan terjadi bilamana kita tidak berdoa?

Dalam Yesaya 52:1 Allah berfirman, “Terjagalah, terjagalah!. ..” saking pentingnya pesan ini maka Allah memberikan perintah sampai dua kali baik di Perjanjian Baru dicatat di dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus yaitu Efesus 5:14 dan di Perjanjian Lama.

Ini menggambarkan betapa pentingnya pesan untuk berdoa… panggilan untuk berjaga-jaga.

Kitab Nabi Yesaya 52:1-4 menjelaskan keadaan yang terjadi bilamana kita tidak berdoa atau berkat-berkat bagi orang-orang yang suka berdoa kepada Allah..

Pertama, Kenakanlah kekuatanmu… [Yesaya 52:1]

Allah memanggil kita untuk berdoa supaya kita dapat mengenakan kekuatan bukan kelemahan. Kuat untuk melawan Iblis; sakit penyakit; musuh-musuh. Iblis berusaha keras untuk menjatuhkan orang-orang percaya dan para hamba Tuhan tetapi Roh yang ada di dalam kita lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia ini.

Ketika kita berdoa maka kita sedang mengenakan kekuatan seperti mengenakan sebuah ‘jubah’ yang dimulai dari kepala [pikiran]; lalu dada [hati] dan perut [perasaan] kemudian kaki [jalan hidup kita] akan semakin kuat dan tidak pernah menjadi lemah.

Kedua, Kenakanlah pakaian kehormatan [Yesaya 52:1]

Doa menghasilkan kehormatan dan keindahan saat berjalan bersama Tuhan. Melalui doa kita dapat menyingkirkan semua kenajisan dan kekotoran lalu kita mengenakan pakaian kehormatan dan keindahan.

Ketiga, Sebab tidak seorangpun yang tidak bersunat atau najis akan masuk lagi ke dalammu [Yesaya 52:1]

Tanpa doa, kita akan menjadi sahabat dunia [orang yang hidup tanpa kebenaran firman Tuhan] akibatnya kehidupan kita seperti orang yang hidup tanpa Tuhan dan menuruti cara-cara dunia.

Sebaliknya, doa akan semakin mendekatkan kita dengan sorga dan kekudusan; saat kita berdoa maka kita akan semakin dipisahkan dari orang-orang yang tidak bersunat [lambang dari orang Filistin]. Roh Filistin adalah roh iri hati dan cemburu [Kejadian 26:12-15]; doa akan membebaskan hati kita dari cemburu dan iri hati yang dapat menghancurkan jiwa dan roh kita.

Keempat, Kebaskan debu daripadamu [Yesaya 51:2]

Doa akan memberikan kekuatan untuk mengatasi ‘keterbatasan manusiawi’ kita oleh karena doa membuka jalan kepada tahta kasih karunia sehingga kita dapat menerima pertolongan pada waktunya [Ibrani 4:16]. Oleh sebab itu, tidak ada masalah atau beban dan dosa yang tidak dapat diselesaikan melalui doa.

Kelima, Tanggalkanlah ikatan-ikatan dari lehermu [Yesaya 52:2]

Apabila kita kurang berdoa atau tidak berdoa maka Iblis akan mengencangkan ikatan-ikatannya atas hidup kita. Doa akan menghasilkan kekuatan untuk menanggalkan ikatan-ikatan masa lalu berupa: kutuk keturunan; kemiskinan; sakit penyakit; kesengsaraan; kebiasaan buruk dan sebagainya.

Keenam, Anda akan kembali ke Mesir [Yesaya 52:3-4]

Apabila kita kurang berdoa maka kita akan kembali kepada kehidupan yang lama. Orang yang kurang berdoa akan kembali ke Mesir; mereka akan berhenti hidup dalam kebenaran firman Tuhan. Sebaliknya mereka akan hidup di dalam dosa percabulan; perzinahan; perjudian; penipuan; pemberontakan; kesombongan; fitnah; hawa nafsu; menimbulkan pertengkaran saudara.

Ketujuh, Asyur akan memeras dia tanpa alasan [Yesaya 52:4]

Iblis akan memeras orang-orang yang kurang berdoa tanpa alasan yang jelas. Mereka akan bertanya mengapa semua ini menimpa kami? Iblis dan semua perbuatannya yang jahat akan datang menimpa Anda bilamana Anda kembali ke Mesir.

Pada saat Anda kembali ke Mesir maka Anda akan berjumpa dengan Iblis dan kejahatannya; oleh karena itu Anda harus keluar dan tetap di luar dari Mesir. Pisahkan diri Anda dari pola pikir dan cara-cara duniawi dan semakin mendekatlah kepada Tuhan melalui doa.

Penutup:
Kita tidak akan pernah berdoa sampai kita memiliki rencana untuk berdoa. Kita harus menentukan kapan waktunya berdoa dan dimana tempatnya untuk berdoa..

Tanpa adanya perencanaan untuk berdoa maka kita tidak akan pernah berdoa. Buatlah rencana untuk berdoa sekarang!

Kamis, 30 April 2009

IDE CEMERLANG YANG TIDAK TERDUGA

IDE CEMERLANG YANG TIDAK TERDUGA
(Keluaran 18:1-27)
Oleh: Saumiman Saud

Coba kita ingat kembali, pernahkah di dalam kehidupan kita dibanjiri persoalan yang bertubi-tubi sehingga kita merasa seakan-akan tidak ada jalan keluar? Kita pikir tidak ada lagi harapan, buntu, karena sudah cukup lama mentok di dalam masalah yang sama . Kebosanan mulai muncul. Keletihan kerja mulai terasa, semangatnya pun sudah menurun. Namun uniknya di saat-saat itu tiba-tiba muncul orang-orang yang tidak kita duga, kemudian dengan ide cemerlangnya membangunkan semangat kita kembali. Jika bukan rancangan Tuhan tentu hal seperti ini tidak akan terjadi.

Naaman pernah mengalami kasus seperti ini. Tatkala ia menghadapi penyakit kustanya, dan boleh dibilang tanpa pengharapan lagi. Tiba-tiba muncul pembantunya memberi usul. Yang menarik adalah Naaman tidak mengabaikan usul itu, walaupun yang menyampaikannya seorang pembantu. Demikian juga dengan Musa, tatakala ia menghadapi berbagai tekanan dan pergumulan memimpin umat Israel . bahkan emosinya juga sudah tidak terkendali. Maka tanpa diduga Alah memakai seseorang yang diluar perhitungannya untuk memberi penyelesaian terhadap persoalan yang sedang dihadapainya. Siapa sebenarnya sumber yang diluar dugaan itu?

Yitro, mertua Musa yang juga seorang imam dari Midian. Ia telah mendengar bagaimana Allah telah memimpin Musa sang menantunya dengan penuh keajaiban tatkala merka keluar dari tanah Mesir. Dan ketika bangsa Israel menuju negaranya, maka Yitro mengambil kesempatan mengantar putrinya Zipora dan cucunya mengunjungi Musa yang sebelumnya Musa memulangkannya untuk sementara ke tempat mertuanya. (lihat Kel 18:1-7)

Jadi walaupun Yitro telah mendengar kabar tersebut, tetap saja Musa menceritakan kejadian tersebut (ayat 8). Apa yang disaksikan Musa justru membuat Yitro sangat bersuka-cita, sebab ternyata Tuhan menyelamatkan Musa dari tangan orang-orang Mesir. Cerita ini membuat diri Yitro bertobat. Demikianlah apa yang dikatakan Yitro “Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, karena memang orang-orang ini telah bertindak angkuh terhadap mereka." (Ayat 11) Sebagai respon ucapan syukur Yitro kepada Tuhan ia mempersembahkan korban sembelihan bagi Allah. Lalu Harun dan semua tua-tua Israel diundang datang untuk makan bersama dihadapan Allah.

Permisi tanya? Pernahkah kita merasakan sebagai suatu ucapan syukur atas keselamatan yang diberikan Tuhan? Pernahkah kita mengungkapkannya dengan mengembalikan berkat-berkat yang Tuhan berikan kepada kita? Kadang kita begitu “enjoy” dengan keadaan yang ada, sehingga kitapun lupa bahawa sesungguhnya kita perlu mengucap syukur dan memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Selama ini kita menampung berkat yang dicurahkan, namun penyalurannya masih terhambat gara-gara kita tidak komitmen pada Tuhan. Hal ini tentu merupakan suatu tantangan bagi kita semua bukan? Sadarkah banyak sekali orang percaya yang tatkala waktu senggang lebih memikirkan untuk menyenangkan diri sendiri ketimbang Tuhan. Tatkala kalender merah, maka rencanapun menumpuk, mulai dari piknik di dalam bahkan di luar negeri; acapkali acara gereja dikorbankan. Antara Retreat dengan piknik ke luar negeri (Kapal Pesiar) otomatis yang lebih menarik adalah piknik. Namun pernahkah kita sebagai anak
Tuhan memprioritaskan untuk Tuhan lebih utama? Kita dapat mencobanya, asal minta pertolongan Tuhan.

Sebagai seorang mertua ternyata Yitro cukup memperhatikan menantunya yang saat itu sedang bertugas berat. Dari pengamatannya secara pribadi ternyata ia melihat bahwa tugas Musa itu sangat berat, apalagi ia harus mengerjakannya sendiri. Bayangkan saja, setiap hari Musa berhadapan dengan berbagai masalah yang timbul dari bangsa Israel . Satu persatu mereka datang untuk “konseling” pada Musa. Mulai dari masalah pribadi, keluarga dan masalah-masalah lainnya. (ayat 13-16) Dengan demikian bila menjelang malam Musa merasa sangat lelah, sementara itu mereka yang masih berdiri di dalam antrian pulang dengan kekecewaan dan frustrasi. Melihat keadaaan ini maka Yitro berkomentar demikian “Tidak baik seperti yang kau lakukan itu, engkau akan menjadi sangat lelah. Baik engkau bangsa yang beserta engkau ini. Takkan engkau sanggup melakukannya sendiri." (Ayat 17-18)

Memang agak janggal kelihatannya, sebab sejak mula tidak biasa kalau Musa mengerjakan sesuatu sendiri. Tatkala ia dipanggil Tuhan di semak belukar, ia mengaku tidak pandai berbicara, itu sebabnya Tuhan memberikan Harun sebagai pendampingnya. Namun herannya saat ini, ia menjalankan kerjanya sendiri. Melihat keadaan yang rumit ini maka Yitro memberikan saran dan ide yang cemerlang. Sungguh munculnya tidak terduga sama sekali.

Jaman sekarang sering kali orang yang lebih tua dianggap kuno, kolot tidak berteknologi dan sebagainya. Namun beda dengan Musa, ia mau belajar dari mertuanya, sebab ia tahu paling sedikit ada pelajaran yang berharga yang dapat diperolehnya. Coba kita lihat jurus cemerlang apa saja yang diajarkan Yitro kepada Musa?

1. Musa harus menjadi penengah, antara Allah dan rakyat. Dengan demikian maka kehidupan Musa sendiri harus membawa prioritas kepada Tuhan. Dengan demikian ia boleh mengerti dengan jelas apa yang diinginkan-Nya.
2. Musa harus mengetahui Kehendak Alllah supaya penyampaiannya kepada rakyat Israel tidak salah
3. Musa harus mendelegasikan tanggung-jawabnya ke beberapa orang

Yitro menyerankan Musa mencari orang-orang yang cakap, takut akan Allah dan dapat dipercaya. Orang itu juga harus benci kepada pengejaran suap. Hanya merekalah yang boleh menjadi pemimpin ( 18:21 ) Cara kerja yang disaran Yitro ini yang dipakai hingga hari ini oleh para ahli management dan juga organisasi-organisa si resmi. Pendelegasian tugas, sehingga menciptakan sinergi yang lebih besar.

Apa yang menjadi pelajaran kita hari ini?

Sebagai seorang percaya kita harus menentukan prioritas dalam hidup kita. Terlalu banyak tuntutan yang harus dijalankan dalam kehidupan orang percaya. Tanpa pertolongan Tuhan kita tidak sanggup menjalaninya. Makanya prioritaskan hidup kita agar senantiasa berjalan di dalam kehendak Tuhan. Ada empat syarat agar kita selalu menjadi prioritas kita :

1. Kita tidak boleh mengabaikan hubungan kita dengan Allah. Jadi demi menjaga agar hubungan kita semakin dewasa dihadapan Tuhan maka kita perlu pengalaman dengan Tuhan. Maka untuk mendapatkan pengalaman itu maka kita perlu sungguh-sungguh belajar firman Tuhan, setelah itu kita perlu juga mengalami hubungan yang intim dengan-Nya dengan demikian maka kita dapat menceritakan kepada orang lain.

2. Kita tidak boleh mengabaikan keluarga. Hubungan dengan Allah tidak boleh menggantikan hubungan kita dnegan orang-orang beriman sekitarnya terutama keluarga. Lihatlah Musa, di saat sibuk dengan segala tugas, ia masih sempat bertemu dengan isteri dan anak-anak dan juga dengan mertuanya. “Tetapi jika ada seorang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya. Orang itu murtad dan lebih buruk dari seorang beriman (1 Tim 5:8)

3. Kita tidak boleh mengabaikan tanggung-jawab pekerjaan kita. Di dalam Kolose 3:23, 24 rasul Paulus mengatakan “Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan baguimu sebagai upah“ Jadi fokus memusatkan perhatian kepada segala tugas dengan penuh tanggung–jawab sangat penting. Membaca Alkitab, melayani Tuhan itu penting bagi orang percaya, namun kalau pada saat jam kerja Anda membaca Alkitab dan melayani Tuhan; maka Anda telah melalaikan tanggung jawab sebagai orang percaya di tempat kerja.

4. Tidak menganggap remeh siapapun, baik dia orang yang lebih muda, maupun yang lebih tua, mereka yang lebih lemah atau bawahan. Mungkin bagi banyak ornag sang mertua itu orang kolot dan ketinggalan jaman, namun bagi Musa sang Musa sang penyelamat sebab idenya sangat cemerlang dan munculnya tanpa di duga. Jika tidak ada intervensi Tuhan, kita yakin semua ini tidak bakal terjadi. Lihatlah Tuhan Yesus, ia tetap menghargai semua orang, termasuk orang yang berdosa bahkan mereka yang memushi Dia. Lalau sebegai pengikut-Nya kita melakukan kesalahan yang besar bila kita menganggap remeh orang lain. Tuhan menciptakan semua manusia unik, mereka memiliki kelebihan tersendiri. Mari kita ambil kesempatan untuk melihat kelebihan orang lain, tinggalkan kebiasaan yang selalu menganggap rendah seseorang. Mungkin Anda saat ini yang akan dipakai Tuhan memberi ide cemerlang pada orang lain?

Selasa, 28 April 2009

HIDUP BAGI TUHAN

2 Korintus 5:13-21
Oleh: Saumiman Saud

“Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. (ay. 15)”

Salah satu alasan yang sangat akurat mengapa Kristus sengaja datang ke dunia dan mati untuk kita adalah , supaya kita yang hidup ini tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri lagi, tetapi justru hidup kita adalah untuk Dia yang telah mati dan dibangkitkan itu. Sejak umat manusia jatuh ke dalam dosa, keegoisan begitu menguasai kehidupan ini, sehingga apa pun yang kita kerjakan, selalu saja dikaitkan dengan hal-hal yang menguntungkan diri sendiri. Termasuk juga yang berhubungan dengan apa yang kita kerjakan buat Tuhan kita.. Jika mendatangkan keuntungan maka kita akan mengerjakannya, namun kalau itu adalah proyek rugi silahkan tunggu dulu. Makanya jangan heran bila pekerjaan misi, apalagi itu mengharuskan seseorang masuk ke daerah terpencil atau bahaya; sangat jarang yang berani mengambil komitmen. Jikalau hanya sekadar perjalanan singkat masih okey, sebab kegiatan itu dianggap hanya sekadar rekreasi atau sedikit mencari pengalaman.

Konsekuensi hidup bagi Tuhan itu merupakan keharusan bagi orang percaya. Dan jika seorang anak Tuhan mau taat, ia harus mengalamai perubahan. Apa saja yang perlu diubah?

1. Perobahan Pemikiran

Rasul Paulus mengatakan dalam ayat 16 “Kami tidak lagi menilai seseorang jugapun menurut ukuran manusia” Selanjutnya “Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak menilainya demikian”

Pemikiran Paulus berubah total, tatkala di dalam pengalaman dirinya telah merasakan Kristus itu hidup. Bayangkan saja, tadinya hatinya menggebu-gebu untuk menghancurkan para pengikut Kristus. Paulus itu bukan orang sembarangan, sebagai seorang Farisi, ahli Taurat, gurunya adalah guru besar Gamaliel. Dalam Kisah Para Rasul 22:3 "Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini.

Siapa Gamaliel itu? Kisah Para Rasul 5:34 mencatat “Gamaliel seorang ahli Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak” Nah, orang yang ahli seperti Paulus ini pun dapat salah menilai, khususnya penilaiannya kepada Kristus.

Kadang di dalam kehidupan kita terdapat hal-hal yang demikian juga. Kita telah memprediksi seseorang terlebih dahulu, padahal kita belum menilainya. Oleh sebab itu, menurut Steven Covey dalam bukunya 7 Kebiasaan Yang Paling Efektif mencatat bahwa paradigma kita harus berubah, Ia mengisahkan dalam perjalanan pulang melalui sebuah kereta api. Dua anak bersama ayahnya kedua anak ini selalu main-main, kadang-kadang mendekat ke arah Steven. Makin lama lama menarik-narik korannya. Steven merasa jengkel, mengapa sang ayah diam aja. Akhirnya dia tidak sabar lagi, Steven berdiri mendekat ke arah ayah anak itu dan berkata. Apakah kamu tidak melihat tingkah laku anakmu itu? Sang ayah hanya menatap hampa ke arah Steven, lalu berkata dengan nada rendah maafkan saya, saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa? Dua jam lalu, kami mendapat interlokal, bahwa isteri yakni ibu dari kedua anakku ini meninggal dalam sebuah kecelakaan, saat ini kami menuju ke sana untuk
mengurus jenazahnya. Ketika Steven mendengar itu langsung berubah konsep pikirannya. Ketika anak-anak itu menggangu dia baca Koran, ia membiarkan saja; ia telah menyelami perasaan mereka.

Bagaimana dengan kita? Terlalu sering kita menilai orang lain dengan nilai sumbang? Apalagi orang tersebut pernah merugikan kita? Terlebih-lebih pernah menyakiti kita. Seakan-akan bagi kita orang itu tidak pernah ada benarnya lagi? Pada waktu kita masih berteman, orangnya kita puji, namun sekarang ada perselisihan, ada salah paham, kita membencinya, kadang juga mencemoohnya habis-habisan. Saya pikir sudah saatnya kita mengubah pemikiran ini, jika benar-benar kita mengaku Yesus telah mati untuk kita. Namun apabila Yesus memang belum mati untuk kita maka tidak heran kalau kita tetap berbuat demikian.

2. Perobahan Diri

Kita lanjutkan pada ayat 17, “jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” Perubahan diri di sini saya sinonimkan dengan ciptaan baru. Kita semua suka yang baru, tahun baru, baju baru, rumah baru, mobil baru. Semua yang baru. Sejorok-joroknya kita, kalau anda yang baca tidak mau diikut sertakan maka saya ulangi kalimat ini, sejorok-joroknya saya, maka saya pasti pingin kalau diri saya bersih, termasuk rumah dan mobil baru itu.

Beberapa minggu lalu saya sempat ngobrol-ngobrol dengan seorang kawan, dalam pembicaraan itu kira-kira demikian. Saya katakan padanya, saya mau ganti mobil nich, lalu dia katakan, ganti dong. Kemuadian dia menyelutuk, masak pendeta besar (baca: tubunya besar) mobilnya butut? Wah, hampir sakit hati saya, tetapi tidak jadi. Saya ingat bahwa hidup ini bukan untuk diriku lagi, ayat 16. Saya hanya jawab begini, saya udah siap ganti mobil, cuma uanngnya saja yang belum siap. Ceritanya belum habis, saya lanjutin lagi ngobrol tentang masalah mobil. Kawan yang lain bilang, kalau punya uang pun, jika mau beli mobil, tetap saya tidak mau beli yang baru? Loh kenapa, saya bertanya? Dia katakan, kalau beli mobil baru, akan tambah beban saja, pertama biaya perawatan mahal, asuransi mahal, pajak mahal, sudah itu jika menyetir tidak dapat santai dan tidak nyaman, harus super hati-hati. Kena senggol sedikit, maka sakit hati sekali. Lalu anak-anak juga sering menjadi
jadi korban kemarahan. Sedikit makanan tumpah atau minuman, kita juga menjadi emosi. Mobil baru saja kita jaga dengan super ketat. Lalu saya coba bandingkan berpikir benar juga, kita ini adalah ciptaan baru maka seharusnya kita berusaha menjaganya dengan lebih baik. Tidak lagi mengotori, dan ada perubahan yang nyata.

3. Perobahan Status

Apabila ada perselisihan, maka kehidupan kita sedikit banyak akan terganggu.. Konsentrasi kita akan bercabang, hati kita galau, pikiran menjadi tidak menentu. Saat-saat yang paling sulit dalam hidup ini adalah tatkala masalah itu datang menyerang dan bertubi-tubi. Kehidupan Paulus itu demikian, sebelum ia bertemu dengan Tuhan Yesus hatinya menggebu-gebu penuh dendam keinginannya hanya menghancurkan, membunuh dan membasmi. Itu sebabnya ia tidak merasa bersalah walaupun menyaksikan orang-orang melempari Stefanus, hingga mati. Meskipun ia tidak ikut melemparinya namun ia memiliki perasaan yang sama dengan orang-orang yang menganiaya Stefanus dan setuju bahwa Stefanus harus dihukum mati.

Kehidupan yang kacau demikian pasti akan berlangsung terus-menerus jika Paulus itu tidak bertemu Yesus. Makanya walaupun ia harus buta selama 3 hari, namun pertemuannya dengan Yesus membawa suatu kedamaian. Kedamaian yang nyata, mengapa? Karena Tuhan Yesus memang telah memperdamaikan Paulus dan kita dengan Tuhan di atas kayu salib. Tadinya tatkala kita dikuasai dosa, kita adalah seteru Yesus, namun saat ini ketika kita mengalami kasih Tuhan maka kita telah diperdamaikan. Nah kepada orang-orang yang telah diperdamaikan itu mereka dipercayakan menyampaikan berita perdamaian. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita kerjakan tugas yang mulia ini?

Memang ada orang mengeluh, mereka berkata bahwa hidupnya susah berubah. Maka doanya agar Tuhan jangan menuntutnya berobah secepatnya. Orang tersebut datang kepada seorang Profesor. Drummond sang professor itu bercerita bahwa seseorang yang datang dan berkata ingin menjadi orang Kristen.

"Itu bagus kawan, tetapi ada masalah apa?” Ia tampak ragu-ragu tetapi akhirnya ia berkata, ”Saya telah menggelapkan uang perusahaan.” “Berarti Anda telah mencuri. Berapa banyak?” “Saya lupa.” ”Apakah 1500 dolar?” “Ya saya kira sejumlah itu.” ”Sekarang begini kawan. Saya tidak yakin sesuatu bisa berubah dengan sekejap. Berjanjilah untuk tidak mengambil lebih dari 1000 dolar tahun ini, dan tahun depan jangan mengambil lebih dari 500 dolar. Dan setelah beberapa tahun Anda tidak mencuri satu sen pun. Bila ketahuan oleh majikan Anda katakan Anda sedang dalam proses menjadi Kristen, dan secara bertahap sedang membiasakan diri tidak mencuri.”

Oh, itu suatu penyesatan yang sempurna. Alkitab mengatakan, “Barang siapa yang mencuri, jangan mencuri lagi.” Ini cukup jelas. Ambil contoh yang lain. Datanglah seseorang yang mengakui bahwa ia mabuk dan memukul isterinya setiap minggu dan ia ingin menjadi Kristen. Akankah saya menasehatkan, ”Jangan terburu-buru. Saya percaya segala sesuatu berjalan secara bertahap. Mulai sekarang janganlah mabuk dan memukul isteri Anda lebih dari sebulan sekali.” Sekali setiap bulan, berarti dua belas kali setiap tahun. Apakah isteri orang itu cukup bergembira bila suaminya berubah menjadi Kristen dengan cara itu? Perubahan itu harus segera, saat ini juga.

Kehidupan orang Kristen yang sejati bukan diukur dari seberapa kita berani mati, kalau tuntutan dunia sering demikian. Jika mau mati bagi Kristus sangat gampang, datang saja ke Negara komunis, lalu kabarkan Yesus secara terang-terangan, maka anda segera ditangkap dan dibunuh. Itu namanya mati, tapi mati konyol. Justru orang Kristen dituntut untuk berani hidup. Hidup itu penuh tantangan, itu sebabnya orang-orang yang Hidup bagi Kristus tantangannya lebih besar. Jadi jangan kita berpikir bahwa untuk hidup bagi Tuhan itu sangat gampang. Memang pada saat pertama kita mendengar para pendeta sering berkata, percaya kepada Tuhan Yesus, maka engkau selamat. Hal ini tidak salah, tetapi itu merupakan orang percaya play-group. Orang percaya yang sejati tentu merindukan kenaikan kelas, percaya Tuhan Yesus mendapatkan keselamatan ditambah rajin beribadah, rajin melayani, suka mengampuni, suka mengasihi, giat mengabarkan Injil, rindu mendukung pekerjaan Tuhan, ikut
terlibat dalam pelayanan, dan seterusnya. Permisi tanya, saat ini anda berada pada posisi yang mana? Sebelum ada perubahan yang total itu, jangan sekali-kali berani berkata bahwa kita sudah Hidup Bagi Tuhan.