Kepahitan merugikan diri sendiri
Pernahkah Anda dilukai oleh orang lain dimasa lalu?
Jika ya, sudahkah Anda telah terlepas dari rasa sakit ? atau luka tersebut terus tertoreh di dalam hati Anda?
Disakiti atau diperlakukan tidak adil merupakan bagian dari kehidupan setiap orang. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menyikapi diri kita bila hal tersebut terjadi dalam kehidupan kita.
Saat disakiti kita dapat memilih untuk terus mencengkeram rasa sakit dan menjadi pahit hati. Hidup kita menjadi menderita, kita membenci dan menyalahkan orang yang menyakiti kita. Satu hal yang pasti bila pilihan ini yang kita ambil, maka orang yang menyakiti kita tidak akan tersakiti, tapi kita sedang menyakiti diri kita sendiri. Dan bila dibiarkan terus menerus akan menjadi akar pahit dalam hidup kita.
Kepahitan bisa menjadi sesuatu yang mematikan, tidak hanya merusak diri sendiri, tetapi juga ke orang lain (bahkan mungkin orang yang kita kasihi).
Adolf Hitler adalah contoh orang yang mempunyai luka batin dimasa lalu, dan seperti yang kita tahu akibat luka tersebut banyak orang yang menderita bahkan mati.
Jangan biarkan kehidupan kita dikotori oleh kepahitan, mulailah untuk mengampuni dan percaya bahwa Tuhan akan memulihkan Anda dan memberi keadilan bagi Anda. Hapus setiap kepahitan dihati Anda hingga ke akar-akarnya dan rasakan kelepasan sejati dari Tuhan.
Ibrani 12:15
"Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan dan mencemarkan banyak orang."
Hebrews 12:15
"Looking diligently lest any man fail of the grace of God; lest any root of bitterness springing up trouble you, and thereby many be defiled."
Jumat, 11 September 2009
KAYA DAN MISKIN ADANYA HANYA DALAM FIKIRAN ANDA DAN SAYA
KAYA DAN MISKIN ADANYA HANYA DALAM FIKIRAN ANDA DAN SAYA
Aku tak kan pernah melupakan Paskah tahun 1946.
Usiaku empat belas tahun, adik perempuanku, Ocy, baru dua belas tahun sedangkan kakak perempuanku, Darlene, enam belas tahun.
Kami tinggal di rumah bersama ibu kami, dan kami berempat tahu apa yang harus kami perbuat tanpa seorang ayah.
Ayahku telah meninggal lima tahun sebelumnya, meninggalkan Ibu tanpa uang dan tujuh orang anak usia sekolah yang masih harus dibesarkan.
Pada tahun 1946, kakak perempuanku menikah dan kakak-kakak lelaki ku meninggalkan rumah. Satu bulan sebelum perayaan Paskah, Pastor di Gereja kami mengumumkan bahwa kami akan menyelenggarakan sebuah acara khusus untuk membantu keluarga-keluarga miskin. Ia meminta kepada setiap orang untuk menabung dan berderma.
Sepulang ke rumah, kami berbincang-bincang tentang apa yang dapat kami perbuat. Kami memutuskan membeli dua puluh lima kilogram kentang dan mencukupkan diri dengan kentang sekian untuk sebulan. Ini akan memungkinkan kami menabung dua puluh dolar jatah belanja kami untuk kami dermakan.
Kemudian terpirkir lagi oleh kami bahwa jika kami menggunakan lampu penerangan seperlunya saja dan tidak mendengarkan radio, kami dapat menabung dari penghematan listrik bulan itu. Darlene mengambil sebanyak mungkin pekerjaan membersihkan rumah dan halaman tetangga, dan kami berdua menjadi pengasuh bayi bagi siapa pun yang bersedia. Dengan lima belas sen kami dapat membeli kain perca yang cukup untuk membuat tiga buah bantalan untuk memegang panci panas, yang sebuahnya kami jual seharga satu dolar. Kami
mendapatkan dua puluh dolar dari menjual bantalan pemegang panci ini. Bulan itu merupakan salah satu bulan terbaik dalam hidup kami.
Setiap hari kami menghitung uang kami untuk mengetahui berapa banyak yang telah kami tabung. Pada malam hari kami duduk-duduk dalam kegelapan dan berbincang tentang bagaimana keluarga-keluarga miskin itu akan menikmati uang yang akan diberikan oleh gereja kepada mereka. Menurut perkiraan kami ada delapan puluh orang miskin di gereja kami, maka kami membayangkan bahwa berapa pun besar uang yang harus kami sediakan, sumbangan ini pasti akan bernilai dua puluh kali lebih besar. Bagaimanapun, setiap hari Minggu Pastor mengingatkan semua orang untuk menabung dan memberikan tabungan itu sebagai derma.
Pada malam sebelum perayaan Paskah, kami begitu bersemangat sehingga kami hampir tidak dapat tidur. Kami tidak peduli bahwa kami tidak akan memiliki baju baru untuk Paskah; kami berhasil mengumpulkan tujuh puluh dolar untuk didermakan. Kami tidak sabar untuk segera berangkat ke gereja!
Pada hari minggu pagi itu, hujan turun dengan deras sekali. Kami tidak mempunyai payung, padahal gereja kami lebih dari dua kilometer jauhnya dari rumah kami, tetapi kami tidak peduli bahwa kami akan basah kuyup. Darlene telah melekatkan sehelai karton pada sepatunya, maksudnya untuk penutup lubang pada solnya. Karena hujan, karton itu basah, sehingga sepatunya berlubang lagi dan kakinya menjadi basah juga.
Akan tetapi kami hadir di gereja dengan bangga. Kami mendengar beberapa teman sebaya kami membicarakan baju kami yang telah lusuh. Aku memandangi mereka yang berpakaian baru itu, tetapi aku justru merasa kaya.
Ketika acara persembahan dimulai, kami duduk di baris kedua dari depan. Ibu memasukkan lembaran sepuluh dolar ke dalam kantong persembahan, dan kami masing-masing memasukkan lembaran uang dua puluh dolar.
Kami bernyanyi-nyanyi di sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Saat santap siang, Ibu memberikan sebuah kejutan kepada kami. Ia telah membeli selusin telur, sehingga kami merebus telur-telur itu menjadi telur Paskah untuk menemani kentang goreng kami!
Menjelang petang hari, pastor menghentikan mobilnya di depan rumah kami. Ibu menyambutnya di pintu, mengobrol dengannya beberapa lama, kemudian kembali dengan sebuah amplop di tangannya.
Kami menanyakan isi amplop itu, tetapi ia tidak mengatakan apa pun. Ia membukanya dan di dalamnya ternyata ada sejumlah uang. Ada tiga lembaran dua puluh dolar, satu lembaran sepuluh dolar dan tujuh belas lembaran satu dolar.
Ibu memasukkan kembali uang itu ke dalam amplop. Kami tidak bicara, hanya duduk sambil menatap lantai. Dari merasa seperti orang kaya kami berubah menjadi seperti orang miskin. Kami, anak-anak, hidup begitu bahagia sehingga kami merasa kasihan kepada siapa pun yang tidak mempunyai ibu seperti Ibu dan tidak mempunyai ayah seperti mendiang ayah kami, juga tidak mempunyai banyak saudara yang masing-masing mempunyai teman banyak.
Perlengkapan makan kami sedikit, tetapi kami merasa lucu bila pada saat santap kami hanya memegang sebatang garpu atau sebatang sendok. Kami hanya mempunyai dua bilah pisau meja, sehingga kami menggunakan pisau itu secara bergiliran, tetapi kami senang. Kami tahu kami tidak memiliki banyak barang yang ada pada kebanyakan orang lain, tetapi kami belum pernah merasa miskin.
Pada hari Paskah tahun itu kami baru sadar bahwa kami miskin. Pastor telah mengantarkan kepada kami uang bagi keluarga-keluarga miskin, jadi pastilah kami termasuk orang miskin, kata ku dalam hati. Aku tidak senang menjadi orang miskin. Aku memperhatikan baju kumal dan sepatu butut ku dan tiba-tiba aku merasa malu sekali - aku bahkan tidak ingin ke gereja lagi. Setiap orang di sana berangkali sudah tahu bahwa kami orang miskin!
Aku berpikir tentang sekolah. Aku sudah duduk di kelas sembilan dan prestasi ku tertinggi di kelas ku dengan murid lebih dari seratus orang. Aku ingin tahu apakah anak-anak di sekolah sudah tahu bahwa kami miskin. Aku memutuskan berhenti sekolah karena aku sudah menyelesaikan kelas delapan.
Bukankah itu batas minimal wajib belajar dari pemerintah pada waktu itu?
Kami duduk diam lama sekali. Kemudian hari menjadi gelap, maka kami berangkat tidur. Selama sepekan itu, kami anak-anak perempuan berangkat ke sekolah dan pulang, dan tak seorang pun bicara banyak. Akhirnya, pada hari Sabtu, Ibu bertanya tentang apa yang ingin kami perbuat dengan uang itu.
Apa yang biasa diperbuat oleh orang miskin bila memperoleh sumbangan?
Kami tidak tahu. Kami baru saja tahu bahwa kami miskin. Kami enggan pergi ke Gereja pada Hari Minggu, tetapi Ibu mengatakan bahwa itu harus. Walaupun hari sangat cerah, kami tidak bicara banyak. Ibu mulai bernyanyi, tetapi tidak seorang pun dari kami bergabung, maka ia hanya menyanyi satu bait.
Di Gereja ada seorang pembicara tamu. Ia bercerita tentang bagaimana jemaatnya di Afrika telah membuat rumah ibadat dari bata yang dibuat sendiri dengan cara dijemur, tetapi mereka memerlukan uang untuk membeli atap. Katanya, seratus dolar sudah cukup untuk mengatapi rumah ibadat itu. Pastor menambahkan, 'Tidak dapatkah kita semua berkorban untuk membantu orang-orang miskin itu?'.
Kami saling berpandangan dan tersenyum untuk pertama kalinya pekan itu.
Ibu merogoh dompetnya dan mengeluarkan amplop tersebut. Ia memberikannya kepada Darlene. Darlene memberikannya kepada ku, dan aku memberikannya lagi kepada Ocy. Ocy membawa amplop itu ke kotak derma.
Ketika uang yang terkumpul dihitung, Pastor tamu itu mengumumkan bahwa jumlahnya sedikit lebih dari seratus dolar. Ia senang sekali. Ia senang sekali. Ia tidak menduga akan mendapatkan sebanyak itu dari sebuah gereja yang jemaatnya tidak banyak.
Ia berkata, 'Di antara Anda pastilah ada yang cukup kaya.'
Tiba-tiba pernyataan itu menyentak!
Kami telah menyumbangkan delapan puluh tujuh dolar dari uang yang seluruhnya hanya 'seratus dolar lebih sedikit.'
Kamilah orang kaya di gereja kami!
Bukankah Pastor tamu itu telah berkata demikian?
Sejak hari itu, aku tidak pernah merasa miskin lagi.
(Eddie Ogan - Chicken Soup for the Golden Soul)
We make a living by what we get and make a life by what we give
salam kasih hangat & persahabatan untuk Anda,
Aku tak kan pernah melupakan Paskah tahun 1946.
Usiaku empat belas tahun, adik perempuanku, Ocy, baru dua belas tahun sedangkan kakak perempuanku, Darlene, enam belas tahun.
Kami tinggal di rumah bersama ibu kami, dan kami berempat tahu apa yang harus kami perbuat tanpa seorang ayah.
Ayahku telah meninggal lima tahun sebelumnya, meninggalkan Ibu tanpa uang dan tujuh orang anak usia sekolah yang masih harus dibesarkan.
Pada tahun 1946, kakak perempuanku menikah dan kakak-kakak lelaki ku meninggalkan rumah. Satu bulan sebelum perayaan Paskah, Pastor di Gereja kami mengumumkan bahwa kami akan menyelenggarakan sebuah acara khusus untuk membantu keluarga-keluarga miskin. Ia meminta kepada setiap orang untuk menabung dan berderma.
Sepulang ke rumah, kami berbincang-bincang tentang apa yang dapat kami perbuat. Kami memutuskan membeli dua puluh lima kilogram kentang dan mencukupkan diri dengan kentang sekian untuk sebulan. Ini akan memungkinkan kami menabung dua puluh dolar jatah belanja kami untuk kami dermakan.
Kemudian terpirkir lagi oleh kami bahwa jika kami menggunakan lampu penerangan seperlunya saja dan tidak mendengarkan radio, kami dapat menabung dari penghematan listrik bulan itu. Darlene mengambil sebanyak mungkin pekerjaan membersihkan rumah dan halaman tetangga, dan kami berdua menjadi pengasuh bayi bagi siapa pun yang bersedia. Dengan lima belas sen kami dapat membeli kain perca yang cukup untuk membuat tiga buah bantalan untuk memegang panci panas, yang sebuahnya kami jual seharga satu dolar. Kami
mendapatkan dua puluh dolar dari menjual bantalan pemegang panci ini. Bulan itu merupakan salah satu bulan terbaik dalam hidup kami.
Setiap hari kami menghitung uang kami untuk mengetahui berapa banyak yang telah kami tabung. Pada malam hari kami duduk-duduk dalam kegelapan dan berbincang tentang bagaimana keluarga-keluarga miskin itu akan menikmati uang yang akan diberikan oleh gereja kepada mereka. Menurut perkiraan kami ada delapan puluh orang miskin di gereja kami, maka kami membayangkan bahwa berapa pun besar uang yang harus kami sediakan, sumbangan ini pasti akan bernilai dua puluh kali lebih besar. Bagaimanapun, setiap hari Minggu Pastor mengingatkan semua orang untuk menabung dan memberikan tabungan itu sebagai derma.
Pada malam sebelum perayaan Paskah, kami begitu bersemangat sehingga kami hampir tidak dapat tidur. Kami tidak peduli bahwa kami tidak akan memiliki baju baru untuk Paskah; kami berhasil mengumpulkan tujuh puluh dolar untuk didermakan. Kami tidak sabar untuk segera berangkat ke gereja!
Pada hari minggu pagi itu, hujan turun dengan deras sekali. Kami tidak mempunyai payung, padahal gereja kami lebih dari dua kilometer jauhnya dari rumah kami, tetapi kami tidak peduli bahwa kami akan basah kuyup. Darlene telah melekatkan sehelai karton pada sepatunya, maksudnya untuk penutup lubang pada solnya. Karena hujan, karton itu basah, sehingga sepatunya berlubang lagi dan kakinya menjadi basah juga.
Akan tetapi kami hadir di gereja dengan bangga. Kami mendengar beberapa teman sebaya kami membicarakan baju kami yang telah lusuh. Aku memandangi mereka yang berpakaian baru itu, tetapi aku justru merasa kaya.
Ketika acara persembahan dimulai, kami duduk di baris kedua dari depan. Ibu memasukkan lembaran sepuluh dolar ke dalam kantong persembahan, dan kami masing-masing memasukkan lembaran uang dua puluh dolar.
Kami bernyanyi-nyanyi di sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Saat santap siang, Ibu memberikan sebuah kejutan kepada kami. Ia telah membeli selusin telur, sehingga kami merebus telur-telur itu menjadi telur Paskah untuk menemani kentang goreng kami!
Menjelang petang hari, pastor menghentikan mobilnya di depan rumah kami. Ibu menyambutnya di pintu, mengobrol dengannya beberapa lama, kemudian kembali dengan sebuah amplop di tangannya.
Kami menanyakan isi amplop itu, tetapi ia tidak mengatakan apa pun. Ia membukanya dan di dalamnya ternyata ada sejumlah uang. Ada tiga lembaran dua puluh dolar, satu lembaran sepuluh dolar dan tujuh belas lembaran satu dolar.
Ibu memasukkan kembali uang itu ke dalam amplop. Kami tidak bicara, hanya duduk sambil menatap lantai. Dari merasa seperti orang kaya kami berubah menjadi seperti orang miskin. Kami, anak-anak, hidup begitu bahagia sehingga kami merasa kasihan kepada siapa pun yang tidak mempunyai ibu seperti Ibu dan tidak mempunyai ayah seperti mendiang ayah kami, juga tidak mempunyai banyak saudara yang masing-masing mempunyai teman banyak.
Perlengkapan makan kami sedikit, tetapi kami merasa lucu bila pada saat santap kami hanya memegang sebatang garpu atau sebatang sendok. Kami hanya mempunyai dua bilah pisau meja, sehingga kami menggunakan pisau itu secara bergiliran, tetapi kami senang. Kami tahu kami tidak memiliki banyak barang yang ada pada kebanyakan orang lain, tetapi kami belum pernah merasa miskin.
Pada hari Paskah tahun itu kami baru sadar bahwa kami miskin. Pastor telah mengantarkan kepada kami uang bagi keluarga-keluarga miskin, jadi pastilah kami termasuk orang miskin, kata ku dalam hati. Aku tidak senang menjadi orang miskin. Aku memperhatikan baju kumal dan sepatu butut ku dan tiba-tiba aku merasa malu sekali - aku bahkan tidak ingin ke gereja lagi. Setiap orang di sana berangkali sudah tahu bahwa kami orang miskin!
Aku berpikir tentang sekolah. Aku sudah duduk di kelas sembilan dan prestasi ku tertinggi di kelas ku dengan murid lebih dari seratus orang. Aku ingin tahu apakah anak-anak di sekolah sudah tahu bahwa kami miskin. Aku memutuskan berhenti sekolah karena aku sudah menyelesaikan kelas delapan.
Bukankah itu batas minimal wajib belajar dari pemerintah pada waktu itu?
Kami duduk diam lama sekali. Kemudian hari menjadi gelap, maka kami berangkat tidur. Selama sepekan itu, kami anak-anak perempuan berangkat ke sekolah dan pulang, dan tak seorang pun bicara banyak. Akhirnya, pada hari Sabtu, Ibu bertanya tentang apa yang ingin kami perbuat dengan uang itu.
Apa yang biasa diperbuat oleh orang miskin bila memperoleh sumbangan?
Kami tidak tahu. Kami baru saja tahu bahwa kami miskin. Kami enggan pergi ke Gereja pada Hari Minggu, tetapi Ibu mengatakan bahwa itu harus. Walaupun hari sangat cerah, kami tidak bicara banyak. Ibu mulai bernyanyi, tetapi tidak seorang pun dari kami bergabung, maka ia hanya menyanyi satu bait.
Di Gereja ada seorang pembicara tamu. Ia bercerita tentang bagaimana jemaatnya di Afrika telah membuat rumah ibadat dari bata yang dibuat sendiri dengan cara dijemur, tetapi mereka memerlukan uang untuk membeli atap. Katanya, seratus dolar sudah cukup untuk mengatapi rumah ibadat itu. Pastor menambahkan, 'Tidak dapatkah kita semua berkorban untuk membantu orang-orang miskin itu?'.
Kami saling berpandangan dan tersenyum untuk pertama kalinya pekan itu.
Ibu merogoh dompetnya dan mengeluarkan amplop tersebut. Ia memberikannya kepada Darlene. Darlene memberikannya kepada ku, dan aku memberikannya lagi kepada Ocy. Ocy membawa amplop itu ke kotak derma.
Ketika uang yang terkumpul dihitung, Pastor tamu itu mengumumkan bahwa jumlahnya sedikit lebih dari seratus dolar. Ia senang sekali. Ia senang sekali. Ia tidak menduga akan mendapatkan sebanyak itu dari sebuah gereja yang jemaatnya tidak banyak.
Ia berkata, 'Di antara Anda pastilah ada yang cukup kaya.'
Tiba-tiba pernyataan itu menyentak!
Kami telah menyumbangkan delapan puluh tujuh dolar dari uang yang seluruhnya hanya 'seratus dolar lebih sedikit.'
Kamilah orang kaya di gereja kami!
Bukankah Pastor tamu itu telah berkata demikian?
Sejak hari itu, aku tidak pernah merasa miskin lagi.
(Eddie Ogan - Chicken Soup for the Golden Soul)
We make a living by what we get and make a life by what we give
salam kasih hangat & persahabatan untuk Anda,
Senin, 07 September 2009
Tanda Tanda Luka
Sumber : http://renungan-harian-kita.blogspot.com/2008/09/tanda-tanda-luka.html
Beberapa tahun yang lalu di sebuah musim panas di Florida bagian selatan. Seorang anak kecil memutuskan untuk pergi berenang di sebuah danau di belakang rumahnya. Dengan tergesa-gesa dia berlari keluar pintu belakang sambil melepaskan sepatu, kaus kaki dan kaosnya, terjun ke air yang dingin. Dia berenang dan berenang terus tanpa disadarinya bahwa dia sudah berada di tengah-tengah danau.
Bersamaan dengan itu, seekor buaya besar juga sedang berenang ke arah yang sama. Ibunya dari dalam rumah memandang ke arah jendela dan melihat anaknya dan buaya tersebut semakin lama semakin mendekat satu dengan yang lain. Dengan ketakutan yang luar biasa, dia berlari ke dekat pinggir danau tersebut sambil berteriak kepada anaknya dengan sekuat tenaga. Ketika mendengar teriakan ibunya, anaknya sadar dan berbalik berenang ke arah ibunya. Namun terlambat sudah.
Buaya besar tersebut juga sudah berhasil menjangkau dia. Dari dermaga, ibu itu menggapai lengan anak lakinya bersamaan dengan buaya besar tersebut menyambar paha dari anaknya.Terjadilah tarik- menarik yang sangat mengerikan antara keduanya. Buaya besar tersebut jauh lebih kuat dari ibunya, namun demikian ibunya bertahan mati-matian untuk tidak menyerah dan membiarkan anaknya terlepas. Seorang petani yang kebetulan lewat di sekitar lokasi mendengar teriakan ibu tersebut, bergegas turun dari mobilnya dan menembak buaya besar itu.
Secara luar biasa setelah berminggu-minggu di rumah sakit, anak laki-laki tersebut berhasil diselamatkan dan disembuhkan. Pahanya penuh dengan bekas luka dari serangan buaya yang sangat ganas itu dan di bagian lengannya juga terdapat bekas luka cakaran dari kuku-kuku ibunya yang menancap pada daging lengannya sebagai usaha mempertahankan nyawa anaknya yang dikasihinya.
Setelah lewat masa-masa traumanya, seorang wartawan surat kabar yang mewawancarai anak laki- laki tersebut meminta dia untuk menunjukkan bekas luka-luka di pahanya. Anak tersebut kemudian mengangkat celananya, namun dia secara bangga juga berkata kepada si wartawan. "Lihat bekas luka- luka di tanganku yang diakibatkan oleh peristiwa tersebut" Ini terjadi karena ibu saya tidak pernah menyerah dan tidak mau melepaskan aku.”
Saudara dan saya dengan mudah dapat mengenali anak laki-laki tersebut. Kita semua punya bekas luka- luka, bukan dari gigitan buaya atau dari satu peristiwa yang sangat dramatis. Tetapi bekas luka- luka dari masa lalu yang sangat menyakitkan. Beberapa dari bekas luka-luka tersebut tidak dapat dikenali dari luar tapi menggoreskan penyesalan yang sangat dalam bagi kita. Namun, beberapa luka, saudaraku, adalah bekas-bekas luka karena Tuhan tidak mau menyerah atas kita. Di tengah-tengah pergumulan Anda, Dia terus bertahan untuk terus memegang Anda.
Firman Tuhan berkata bahwa Allah mengasihi Anda. Bilamana Yesus Kristus ada di dalam kehidupan Anda, Anda menjadi anakNYA. Dia sangat rindu untuk memproteksi dan menyediakan kebutuhanmu dengan cara apapun juga. Tetapi seringkali kita secara bodoh melakukan perkara-perkara yang membahayakan diri kita sendiri. kehidupan selayaknya sebuah danau tempat kita berenang, danau yang dipenuhi berbagai bahaya dan kadang kala kita lupa bahwa musuh kita sedang menunggu untuk menyerang.
Ketika peristiwa tarik-menarik terjadi, berbahagialah bilamana Anda memiliki bekas luka di lengan Anda sebagai tanda kasihNya pada Anda. Dia tidak pernah dan tidak akan sekali-kali menyerah dan membiarkan serta melepaskan anda pergi.
Bersamaan dengan itu, seekor buaya besar juga sedang berenang ke arah yang sama. Ibunya dari dalam rumah memandang ke arah jendela dan melihat anaknya dan buaya tersebut semakin lama semakin mendekat satu dengan yang lain. Dengan ketakutan yang luar biasa, dia berlari ke dekat pinggir danau tersebut sambil berteriak kepada anaknya dengan sekuat tenaga. Ketika mendengar teriakan ibunya, anaknya sadar dan berbalik berenang ke arah ibunya. Namun terlambat sudah.
Buaya besar tersebut juga sudah berhasil menjangkau dia. Dari dermaga, ibu itu menggapai lengan anak lakinya bersamaan dengan buaya besar tersebut menyambar paha dari anaknya.Terjadilah tarik- menarik yang sangat mengerikan antara keduanya. Buaya besar tersebut jauh lebih kuat dari ibunya, namun demikian ibunya bertahan mati-matian untuk tidak menyerah dan membiarkan anaknya terlepas. Seorang petani yang kebetulan lewat di sekitar lokasi mendengar teriakan ibu tersebut, bergegas turun dari mobilnya dan menembak buaya besar itu.
Secara luar biasa setelah berminggu-minggu di rumah sakit, anak laki-laki tersebut berhasil diselamatkan dan disembuhkan. Pahanya penuh dengan bekas luka dari serangan buaya yang sangat ganas itu dan di bagian lengannya juga terdapat bekas luka cakaran dari kuku-kuku ibunya yang menancap pada daging lengannya sebagai usaha mempertahankan nyawa anaknya yang dikasihinya.
Setelah lewat masa-masa traumanya, seorang wartawan surat kabar yang mewawancarai anak laki- laki tersebut meminta dia untuk menunjukkan bekas luka-luka di pahanya. Anak tersebut kemudian mengangkat celananya, namun dia secara bangga juga berkata kepada si wartawan. "Lihat bekas luka- luka di tanganku yang diakibatkan oleh peristiwa tersebut" Ini terjadi karena ibu saya tidak pernah menyerah dan tidak mau melepaskan aku.”
Saudara dan saya dengan mudah dapat mengenali anak laki-laki tersebut. Kita semua punya bekas luka- luka, bukan dari gigitan buaya atau dari satu peristiwa yang sangat dramatis. Tetapi bekas luka- luka dari masa lalu yang sangat menyakitkan. Beberapa dari bekas luka-luka tersebut tidak dapat dikenali dari luar tapi menggoreskan penyesalan yang sangat dalam bagi kita. Namun, beberapa luka, saudaraku, adalah bekas-bekas luka karena Tuhan tidak mau menyerah atas kita. Di tengah-tengah pergumulan Anda, Dia terus bertahan untuk terus memegang Anda.
Firman Tuhan berkata bahwa Allah mengasihi Anda. Bilamana Yesus Kristus ada di dalam kehidupan Anda, Anda menjadi anakNYA. Dia sangat rindu untuk memproteksi dan menyediakan kebutuhanmu dengan cara apapun juga. Tetapi seringkali kita secara bodoh melakukan perkara-perkara yang membahayakan diri kita sendiri. kehidupan selayaknya sebuah danau tempat kita berenang, danau yang dipenuhi berbagai bahaya dan kadang kala kita lupa bahwa musuh kita sedang menunggu untuk menyerang.
Ketika peristiwa tarik-menarik terjadi, berbahagialah bilamana Anda memiliki bekas luka di lengan Anda sebagai tanda kasihNya pada Anda. Dia tidak pernah dan tidak akan sekali-kali menyerah dan membiarkan serta melepaskan anda pergi.
Langganan:
Postingan (Atom)